Repository dan Pengetahuan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

KKP Pastikan Tuna Indonesia Bebas IUU Fishing

9 Views October 11, 2017 0 Comments 0 Likes

KKPNews, Jakarta  – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan ikan tuna Indonesia bebas dari kegiatan illegal, unreported and unregulated fishing (IUUF). Pemerintah juga terus menerus berupaya memberantas IUUF dengan meningkatkan kepatuhan pelaku usaha perikanan agar semua produk perikanan Indonesia termasuk komoditi tuna bukan berasal dari praktek-praktek ilegal.

Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan, Ditjen Perikanan Tangkap KKP Reza Shah Pahlevi menuturkan ikan tuna adalah salah satu produk perikanan dengan kualitas ekspor sehingga harus mendapatkan penanganan yang baik dan bebas dari aksi IUUF.

“Untuk memberantas pratek perikanan ilegal, KKP telah membentuk satuan tugas 115. Selain itu untuk Indonesia juga terlibat sebagai champion partner global record of fishing vessels, integrasi data vessel monitoring system (VMS) dengan global fishing watch yang telah memberikan dampak positif terhadap upaya Indonesia untuk turut menjamin keberlanjutan usaha perikanan tuna dunia,” kata Reza usai membuka pertemuan internasional Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) tahun 2017 di Yogyakarta, pada Senin (9/10).

Mengatasi permasalahan tuna yang kompleks tersebut, Pemerintah Indonesia telah menetapkan Tuna Fisheries Management Plan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan  Republik Indonesia Nomor 107/KEPMEN-KP/2015 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Tuna, Cakalang dan Tongkol sebagai referensi dasar pengelolaan perikanan tuna di Indonesia.

“Kita sama-sama tau kalau upaya membasmi IUUF juga dilakukan dengan mendorong entitas dunia untuk menyatakan IUU Fishing  sebagai transnational organized crime (TOC),” lanjut Reza.

Lebih lanjut Reza mengatakan, kapal perikanan yang menangkap ikan tuna di Indonesia harus memiliki teknologi elektronik yang dapat menjamin ketelusuran (traceabilty). Teknologi yang diterapkan tersebut yaitu penggunaan electronic documentation system (E-CDS)electronic logbooksatellite linked VMStagging system, penempatan observer di atas kapal dengan coverage 10% dari total kapal.

“Negara-negara tujuan ekspor sangat ketat dengan aturan ini, jadi kita optimalkan agar ketelusuran ikan tuna ini jelas. Apalagi tuna sirip biru selatan mahal harganya. Nilai ekspor produk tuna ini baik dalam bentuk segar, beku maupun olahan sebesar USD50 juta atau Rp650 miliar per tahun,” pungkas Reza. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *