Repository dan Pengetahuan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Lele Bioflok Berhasil Dikembangkan di Perbatasan

37 Views November 7, 2017 0 Comments 0 Likes

KKPNews, JAKARTA — Budidaya lele dengan sistem bioflok berhasil diterapkan di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Program itu dilakukan untuk mengerek konsumsi ikan di tapal batas.

Bertempat di Desa Bungkang Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, panen lele bioflok dilakukan bersama oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kelompok Pembudidaya Maju Terus.

Panen dilakukan pada 10 kolam dengan diameter 3 meter. Masing-masing kolam mampu menghasilkan rata-rata 300 kg lele dengan ukuran 7-8 ekor per kg. Total panen mencapai 3 ton dengan harga jual Rp24.000 per kg. Dengan demikian, nilai produksi dari panen kali ini mampu mencapai Rp72 juta. Waktu pemeliharaannya pun sangat singkat, yakni hanya 70 hari sehingga dalam 1 tahun bisa dilakukan 4-5 kali panen.

Ketua Kelompok Maju Terus Mardiansyah menjelaskan, dengan biaya produksi per kg Rp16.000, maka kelompok mampu memperoleh keuntungan hingga Rp8.000 per kg atau total sekitar Rp24 juta. Untuk pemasaran pun saat ini kelompok tidak mengalami kendala berarti.

“Harga ikan lele di sekitar Sanggau saat ini cukup baik. Biasanya pengepul mengambil di petani dengan harga Rp22.000-24.000 per kg. Selain ke pengepul, kami pun menjualnya ke masyarakat sekitar sini [Sanggau]. Untungnya lumayan, bisa paling kecil Rp6.000 sampai Rp8.000 per kilo,” ujar Mardiansyah dalam siaran pers yang dirilis KKP, Senin (6/11/2017).

Mardiansyah menceritakan, untuk pasar sekitar Entikong, harga eceran bisa mencapai Rp30.000–Rp32.000 per kg, di mana sebagian pembelinya adalah warga negara Malaysia. Mereka lebih suka dengan ikan lele dari Indonesia karena dianggap lebih bersih dan cara pemeliharaannya lebih baik.

Sekretaris Ditjen Perikanan Budidaya, Tri Hariyanto mengatakan pengembangan budidaya lele bioflok di Entikong merupakan bagian dari program prioritas KKP yang ditujukan untuk masyarakat di perbatasan, pondok pesantren, dan lembaga pendidikan.

“Tahun 2017 ada sekitar 203 paket budidaya lele bioflok yang disalurkan kepada masyarakat di seluruh Indonesia. Penerimanya bisa pondok pesantren, seminari, maupun kelompok-kelompok masyarakat di perbatasan. Bukan hanya di Entikong, daerah perbatasan lainnya juga mendapatkan bantuan serupa, seperti di Kabupaten Belu NTT, Sarmi dan Wamena di Provinsi Papua,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin Kalimantan Selatan Haryo Sutomo menyampaikan, untuk perbatasan RI-Malaysia di Entikong, ada dua penerima bantuan budidaya lele bioflok, yakni Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Maju Terus, Desa Bungkang-Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, dan Pokdakan Sumber Bersama, Dusun Peripin, Desa Entikong, Kecamatan Entikong. Kedua Pokdakan ini menerima paket bantuan berupa kolam pembesaran, benih ikan lele, pakan ikan, obat-obatan, serta sarana dan prasarana pendukung lainnya.

Kabupaten Sanggau memiliki luas perairan hingga mencapai 136.364 hektare, baik perairan umum, seperti sungai, danau, rawa dan bendungan, maupun kolam budidaya.

Tingkat konsumsi ikan per kapita Sanggau pada 2016 masih cukup rendah, yakni 30 kg per kapita per tahun, di bawah tingkat konsumsi ikan per kapita nasional 43,94 kg per kapita per tahun.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *