Repository dan Pengetahuan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

KKP Bangkitkan Kembali Budidaya Ikan di Pandeglang

0 Views February 28, 2019 0 Comments 0 Likes

KKPNews, Pandeglang – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali menyerahkan bantuan bagi pembudidaya ikan dan masyarakat terdampak bencana tsunami di Kabupaten Pandeglang, Banten (22/2). Kali ini KKP menyerahkan bantuan bagi pembudidaya ikan berupa 35.000 ekor benih lele dan 1,4 ton pakan ikan. Selain itu, KKP juga menyalurkan bantuan paket sembako kepada 160 KK.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto secara langsung menyerahkan bantuan tersebut yang dipusatkan di Kampung Mataram, Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Slamet tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia mengajak seluruh kepala UPT lingkup Ditjen Perikanan Budidaya dari seluruh Indonesia dalam kunjungannya. Juga hadir kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pandeglang, Camat, tokoh masyarakat dan agama, serta penyuluh perikanan.

Bantuan yang diserahkan merupakan sebagian dari rencana KKP untuk membangkitkan kembali usaha perikanan budidaya di Kabupaten Pandeglang pasca bencana tsunami. Pada tahun 2019 ini KKP berencana menyalurkan 1,5 juta ekor benih ikan dan udang, 3.000 ekor calon induk ikan unggul, 10-15 ton pakan ikan, paket budidaya bioflok, bahan baku pakan mandiri, serta pendampingan dalam berbagai usaha perikanan termasuk budidaya.

“Kami (KKP) berkewajiban memotivasi masyarakat untuk segera bangkit. Kami ingin pembudidaya segera kembali melanjutkan usahanya. Produksi perikanan baik dari budidaya maupun penangkapan harus kembali bangkit. Kami tahu potensi perikanan budidaya yang dimiliki pandeglang luar biasa,” ujar Slamet penuh semangat, memotivasi masyarakat yang hadir.

“Kami yakin ini belum cukup. Kami minta Pak Kadis untuk mengidentifikasi lebih lanjut serta meng-update kerusakan-kerusakan sarana prasarana budidaya dan jumlah pembudidaya yang terdampak bencana,” lanjutnya.

Slamet juga mengharapkan kepada masyarakat membentuk kelompok berbadan hukum atau koperasi untuk memudahkan pembinaan dan penyaluran bantuan dari pemerintah termasuk KKP, perbankan, serta lembaga lainnya.

“Untuk mengatasi penyakit ada balai khusus yang menangani penyakit ikan di Serang sini. Persoalan pakan, maka akan ada bantuan pakan, mesin pakan mandiri. Oleh karena itu, saya minta agar membentuk kelompok baik pembudidaya, nelayan maupun pengolah, anggotanya 10, 11, 12 orang, boleh lebih,” terang Slamet saat menjawab keluhan masyarakat terkait penyakit ikan dan mahalnya pakan ikan.

Terkait isu dan ketakutan masyarakat untuk makan ikan hasil tangkapan di laut, ia kembali mengingatkan bahwa itu adalah anggapan yang salah.

“Ikan di lautan itu tidak makan jenazah korban tsunami yang terbawa ke laut. Itu anggapan yang tidak tepat. Ikan di laut makan berbagai jenis plankton dan makan ikan lain yang ukuran badannya lebih kecil dari bukaan mulutnya,” ia menjelaskan.

Slamet meminta masyarakat kembali dan semakin menggemari makan ikan. Saat ini jelasnya, konsumsi per kapita penduduk Indonesia sudah mecapai 50,69 kg/kapita/tahun dan ditargetkan 5 tahun ke depan sudah mampu mencapai 73 kg/kapita/tahun.

“Usaha di perikanan itu berguna untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, perekonomian keluarga bapak ibu. Juga untuk meningkatkan gizi keluarga dan masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Ade Nawawi, pembudidaya ikan sekaligus korban tsunami mengapresiasi dan menyatakan kegembiraannya atas bantuan dan perhatian dari KKP.

“Sebelumnya kami stres. Dengan adanya bencana tsunami, selain rumah kami jadi korban, usaha budidaya lele kami juga hancur. Dengan adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah ini, kami semangat lagi. Mohon kami terus dibimbing,” ujarnya.

Ia menceritakan bagaimana bencana tsunami sempat membuatnya sedih. Beberapa hari sebelum terjadi bencana yang mengagetkan itu, ia baru saja menebar benih ikan lele. Saat itu ia memiliki 4 unit kolam dengan kapasitas 5.000 ekor per kolam. Benih ikan yang ia tebar akhirnya musnah akibat tsunami.

Selain menyerahkan bantuan, Slamet dan rombongan juga melakukan pertemuan dengan Bupati Pandeglang, Irna Narulita.

Di hadapan Bupati dan jajarannya, ia kembali menyampaikan keinginan KKP agar pelaku usaha perikanan termasuk pembudidaya segera bangkit.

“Saat ini tepat 2 bulan lalu, bencana tsunami terjadi. Oleh karena itu sudah saatnya usaha budidaya dan lainnya kembali bangkit. Ini harus jadi momentum agar usaha budidaya lebih besar dari sebelumnya,” harapnya.

“Saya minta untuk membentuk koperasi, karena ada bantuan excavator yang dapat diakses. Excavator dapat dipakai untuk membuat kolam-kolam baru dan juga membuat dan memperbaiki saluran irigasi tambak atau kolam. Nanti ada pendampingan juga dari penyuluh dan UPT,” lanjutnya.

“Tidak hanya itu, kami juga bergerak cepat dengan menggandeng FAO. Kami sudah kirimkan proposal. Mereka sudah setuju untuk membantu pembudidaya yang terdampak tsunami,” tambahnya.

Bupati Pandegalang, Irna Narulita yang tampak tidak dapat menyembunyikan rasa gembiranya itu, menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian dari KKP untuk masyarakatnya.

“Terima kasih atas bantuan sembako, pakan, benih, dan lainnya yang sudah diberikan. Banten memiliki 51 pulau dan garis pantai 600 km, 300-an km di antaranya atau separuhnya di Pandeglang. Sehingga budidaya bisa menjadi peluang usaha bagi masyarakat,” ujar Bupati yang juga mantan anggota Komis IV DPR RI ini.

“Kami harap kelompok pembudidaya dapat menggunakan teknologi-teknologi baru yang dikembangkan KKP sehingga usaha yang dilakukan dapat berhasil,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, tanggal 22 Desember 2018 yang lalu atau tepat 2 bulan sudah berlalu, masyarakat pesisir Banten khsusnya Kabupaten Pandeglang dan Serang serta masyarakat pesisir Lampung Selatan Provinsi Lampung dikejutkan oleh hantaman tsunami.

Akibat bencana tersebut, berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang, sentra-sentra perikanan budidaya di 6 kecamatan yakni Carita, Labuhan, Panimbang, Sumur, Sukaresmi, dan Cimanggu terkena dampak tsunami.

Tercatat 40 unit KJA beserta 33.000 ekor ikan kerapu dan bawal bintang di dalamnya, 8 unit bagan budidaya kerang hijau, 11 unit budidaya rumput laut, 8 hektar tambak bandeng, 3 hektar kolam Nila dan Lele hancur diterjang tsunami, setidaknya 81 orang pembudidaya terkena dampak langsung bencana itu.

Selain itu, laporan yang masuk ke DJPB KKP ada 7 backyard pembenihan udang di Kecamatan Carita Pandeglang yang mengalami kerusakan sarpras meliputi bangunan rusak berat, kolam, instalasi inlet, mekanik-elektrikal mengalami kerusakan sedang hingga ringan.

Di Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang kerusakan sarpras dialami oleh sembilan hatchery swasta seperti PT Syaqua, Windu Sagara, Central Benur Anyer, Manunggal 23, PT Central Proteina Prima, Graha Benus Unggul, Windu Prima Utama , Benur Alam Anyer dan Anyer Benur Lestari.

Sedangkan di Lampung Selatan, kerusakan sarpras budidaya meliputi 196,2 unit bangunan hatchery/backyard dan 2 hektar tambak yang tersebar di Kecamatan Kalianda, Rajabasa, Sidomulyo, Ketapang, Katibung, Sragi, dan Bakauhenii, serta 676 frame budidaya rumput laut di kecamatan Ketapang. (Humas DJPB)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *