Repository dan Pengetahuan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Nelayan Natuna Hanya Butuh Pengawalan 24 Jam, Bukan Datangkan Nelayan Lain

0 Views January 14, 2020 0 Comments 0 Likes

NATUNA, KOMPAS.com – Ketua Nelayan Kabupaten Natuna, Herman menegaskan bahwa mereka para nelayan Natuna 100 persen menolak keberadaan buruh nelayan pantura. Keputusan ini berdasarkan dari hasil musyawarah besar (mubes) yang dilakukan kemarin dari seluruh perwakilan nalayan Natuna yang jumlahnya mencapai 6.000-an. Menurut Herman, apa yang dilakukan pemerintah dengan mendatangkan para nelayan senusantara, terlebih nelayan pantura, sudah baik. Hanya saja, kata Herman, belum tepat untuk nelayan Natuna yang cara tangkapnya benar-benar masih ramah lingkungan, sehingga kelestarian ekosistem laut masih terjaga. “Makanya kami langsung menggelar mubes, dan hasilnya kami menolak keberadaan nelayan lain di Laut Natuna,” kata Herman, Senin (13/1/2020).

Herman mengaku bahwa para nelayan Natuna hanya membutuhkan pengawalan ketat 24 jam dari aparat penegak hukum di laut. Meski rata-rata kapal hanya 5 GT, namun kawasan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia bisa diarungi para nelayan Natuna. Hanya saja terkadang mereka mendapatkan intimidasi dari sejumlah nelayan atau kapal ikan asing (KIA), baik Vietnam, Thailand maupun China. Hal itu yang membuat mereka mundur dan pergi meninggalkan kawasan ZEE Indonesia yang ada di utara Laut Natuna.

“Nalayan Vietnam dan Thailand pada arogan, mereka tidak segan-segan menabrakkan kapalnya ke kapal kami. Makanya, kalau melihat kapal mereka, kami memilih mundur,” jelasnya. Beda dengan KIA asal China, meski tidak segarang KIA Vietnam dan Thailand, namun mereka dibantu dengan kapal pengawasan perikanan dan kapal Coast Guard China. “Jadi kapal Coast Guard China dan kapal pengawasan perikanan China lah yang mengusir kami, kalau kami tidak minggir, ya ditabrak merekalah kami,” paparnya.

Bantuan alat komunikasi Herman berharap agar pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dapat membantu nelayan Natuna berupa batuan alat komunikasi atau radio yang jangkauannya lebih luas. Serta bantuan kapal 5 GT untuk nelayan Natuna, sehingga keberadaan mereka lebih ramai di kawasan ZEE Indonesia di utara Laut Natuna. “Saat ini satu kapal ada 4 orang, kalau ada bantuan kapal, tentunya dari 4 orang bisa dipecah menjadi satu kapal dua orang, dengan begitu keberadaan kami nelayan Natuna lebih ramai,” harapnya.  “Yang terpenting, pengawalanan di perbatasan oleh aparat 24 jam, yang tentunya sangat mendukung dan membantu kami dalam menjaga kedaulatan Indonesia di utara Laut Natuna,” kata Herman mengakhiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *